My Unforgettable Experience : Speaking in front of great people

Bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi.

Sekitar sebulan yang lalu tepatnya pada tanggal 9 April 2019 Allah beri kami kesempatan luar biasa untuk memaparkan presentasi penelitian dan pengabdian masyarakat. Tim pengabdi kami yang diketuai oleh bapak Budi Hamuddin, M.Esl.,tampil sebagai pemakalah “Mengenali dan Merintis Publikasi Ilmiah bagi Novice Researcher : Merekomendasi framework Berbasis Sains Terbuka”.  Disini saya bukan mau memaparkan apa isi dari publikasi kami,BIG NO!
So,disini saya mau berbagi pengalaman bahwa gak ada yang gak mungkin kalau kita mau. Yap. Kata kuncinya cuma MAU . Tapi bukan berarti poin-poin seperti doa,ikhtiar,kerja keras itu gak penting ya. I mean, apapun itu semua bisa dilakukan kalau ada KEMAUAN. Mau makan tapi gak ada kemauan ngambil nasi di dapur,gak mungkin tuh nasi tiba-tiba sampai di dihadapan kita. Pengen pintar bahasa inggris tapi gak pernah nyoba belajar,ya gak mungkin tiba-tiba bisa . Buat saya,kemauan kunci utamanya. Seperti yang saya bilang diawal,gak ada yang gak mungkin atau bahasa kerennya Impossible is Nothing . Saya gak pernah menyangka bisa berdiri berbicara di hadapan orang-orang hebat seperti bapak ibu dosen,professor,dan para ahli lainnya. Sedangkan saya cuma anak kemaren sore yang baru terjun ke dunia per-jurnal-an. Yes,saya baru tau seluk beluk tentang jurnal,repositori,indexasi pas semester 2. “kok bisa sih dia yang baru tau sedikit tapi udah bisa presentasi di depan dosen dan professor gitu ?” oke,let me tell the story. Pertama saya ucapkan beribu terima kasih kepada dosen favorit saya,Bapak Budi Hamuddin, M.Esl. Karna beliau sudah memberi saya kesempatan langka ini. saya masih ingat,satu bulan sebelum seminar nasional ini diadakan,saya yang saat itu sedang diskusi dengan beliau di ruang kerjanya, tiba-tiba ditawarkan untuk menjadi pemakalah di seminar itu.  Wah,kaget dong. “mau apa nggak ? nanti bapak bantu buatnya” kira-kira begini perkataan beliau saat itu. “Boleh pak,saya mau” ini jawaban yang keluar dari mulut saya. Kenapa saya dengan pede nya nerima tawaran beliau yang saya tau saya belum ahli di bidang itu ? Karena itu kesempatan langka. Tidak setiap hari tawaran seperti sampai kepada saya. Bukan berarti saya bunuh diri hanya karena “tawaran”. No. Seperti yang saya bilang sebelumnya,setelah kemauan dilanjutkan dengan usaha,kerja keras dan doa. Setelah itu bukan berarti saya cuma “leha-leha” doang. Ada usaha,kerja keras,team work dan doa didalamnya. Kalau aja saat itu saya pesimis,takut,dan gak pede mungkin saat ini saya gak akan pernah nulis cerita ini. saya gak akan pernah rasain pengalaman yang luar biasa.
And then, untuk partner saya Tatum Derin dan Kak Nur Afifah, we’ve done our best. We’ve had an amazing experiences. And our friend Nofita Sari Gowasa, thanks for support us, and the photos that you took is very cool. 



Atas tengah : Nofita Sari Gowasa
Jilbab biru : Tatum Derin
Baju batik : Bapak Budi Hamuddin
Jilbab merah jambu : Nur Afifah

Komentar

Postingan Populer