Antara Politisasi Agama dan Pendukung Fanatik


Bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi.

“islam rahmatan lil ‘alamin” begitu suci nya Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Identitas islam yang membawa kedamaian bagi semesta alam. Islam selalu mengajarkan penganutnya untuk menebarkan kedamaian. Namun kini,wajah islam berubah menjadi hal yang menakutkan karena ulah sebagian orang,tukang buat onar mereka bilang. Terminolog jihad yang identik dengan islam kini berkali-kali diserukan. Aksi turun ke jalan karena tidak terima akan kekalahan dianggap sebagai bentuk jihad,membela islam. Mereka begitu meyakini aksi yang tersebut di ridhoi Allah. Harus Sampai sebegitunya kah mereka menodai imej jihad? Rasulullah mengajarkan bahwa jihad adalah sesuatu yang mulia,sesuatu yang akan diganjar syurga dan dilabeli syahid oleh Allah SWT. Tapi mereka melakukan “jihad” yang dibumbui dengan syahwat  politik,penyalur rasa iri benci dan haus kekuasaan. Orang-orang seperti itulah yang sesungguhnya menistakan agama,menistakan islam. Jihad yang mulanya menjadi aktivitas mulia bagi para sahabat nabi untuk menebarkan cahaya Islam, kini diubah menjadi santapan tokoh politik. Islam yang suci,islam yang mulia,islam yang damai dikotori oleh kepentingan para politikus. Kalimat “laa illaha illallah” “allahu akbar” yang sangat suci begitu mudahnya keluar dengan ancaman membunuh seseorang. Naudzubilah. Sebagai seorang muslim yang mentaati Allah dan Rasulnya,tidak rela jika kalimat agung Allah keluar dari mulut para pembenci seperti mereka. Islam dan politik bisa berdampingan,bahkan tidak boleh dipisahkan. Tapi pihak-pihak merekalah yang menodai. Tapi bagaimanapun juga,islam tetaplah murni. Karena sebenarnya diri mereka sendirilah yang dipermalukan.

Belum lagi kalimat kecurangan terstruktur,sistematis, dan massif. Begitu narasi yang digaungkan. Kata curang menjadi diksi yang selalu diucapkan. Si ini curang,si itu curang,si anu curang. Suudzon dimana-mana. Seorang petarung sejati tidak akan pernah menuduh lawannya curang ketika ia kalah. Lagi,tidak percayakah mereka dengan takdir Allah? Bukankah pihak mereka banyak didukung oleh “ulama”. Seharusnya  mereka percaya dan menerima semua takdir Allah. Lagipula,sehebat apapun kecurangan yang didesain jika Allah berkehendak maka kecurangan tidak akan menang. Narasi curang yang selalu mereka katakan malah mempertontonkan sikap tidak gentle. Berani berkompetisi jangan hanya siap menang,tapi harus siap juga untuk kalah. Delusi kemenangan menari-nari kepada yang kalah.

Tanggal 22 Mei mereka jadikan sebagai aksi “gerakan kedaulatan rakyat”. Mengatakan bahwa ini kemauan rakyat. Pertanyaanya,rakyat yang manakah? Rakyat Indonesia sudah menyerahkan hasil pemilu kepada KPU. Kepercayaan sudah di amanahkan kepada mereka. Rakyat Indonesia sudah move on. Yang muslim asik menjalankan ibadah Ramadhan. Kini pihak-pihak tertentu yang masih sibuk sana-sini mengurusi pemilu. Rakyat Indonesia di cerai berai,di adu domba. Rasionalitas rakyat dikelabui. Sadarkah mereka atas apa yang telah mereka lakukan?

Pesan damai untuk seluruh saudara/saudariku di seluruh Indonesia. Jangan sampai karena ulah pihak-pihak tertentu kita tercerai berai. Jangan sampai otak kita tercuci oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan. Mari optimalkan ibadah di bulan Ramadhan,sambut Idul Fitri dengan hati yang suci. KARENA CAPRES-CAWAPRES ITU FANA. INDONESIA YANG MESTI ABADI SELAMANYA -NAJWA SHIHAB





Komentar

Postingan Populer