Faktor-faktor pembulian Berdasarkan Point of View Pelaku


Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu.

Kasus-kasus pembulian baru-baru ini telah menjadi isu hangat yang dibahas di Indonesia. Mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi bahkan di dunia pekerjaan. Seringkali, setiap kasus pembulian terjadi, yang menjadi sorotan utama adalah seberapa buruk si pelaku melakukan pembulian. Atau betapa kasian nya si korban sehingga mengalami hal seperti itu. Semua selalu fokus pada perilaku dan tindakan pelaku Sangat jarang sekali orang-orang melihat kasus pembulian melalui sudut pandang pelaku. Apa motifnya sehingga pelaku bisa melakukan tindakan seperti itu. Menurut penelitian, ada tiga faktor yang membuat pelaku melakukan tindakan pembulian. Faktor-faktor emosional pelaku yang dipengaruhi oleh lingkungan, memiliki masalah pada nilai akademik, dan latar belakang keluarga dan ekonomi yang rendah. Yang pertama faktor emosional pelaku yang dipengaruhi oleh lingkungan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Soedjatmiko dan Wiguna dalam artikel Gambaran Bullying dan Hubungannya dengan Masalah Emosi dan masalah pada Anak Sekolah Dasar, pengaruh lingkungan memberikan andil besar dalam perkembangan dalam diri seseorang. Pelaku yang berada dalam lingkaran teman-teman yang memiliki emosi yang tidak stabil cenderung secara bertahap akan terpengaruh dan ikut-ikutan. Karena otak akan membaca apa yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga. Secara tidak langsung,lama kelamaan tubuh akan menirukan apa yang telah dibaca oleh otak. Inilah yang terjadi ketika Anda berada dalam lingkaran persahabatan yang toxic. Kemudian,pelaku yang memiliki masalah akademik. Penelitian Glew G, Kipas MY, Katon W, Rivara FP, Kernic MA. Penindasan, penyesuaian psikososial dan prestasi akademik di sekolah dasar (2005) membuktikan bahwa, seorang anak yang memiliki masalah akademik cenderung mencari orang lain untuk dibully sebagai cara untuk menutup kekurangannya di bidang akademik. Dia melakukan itu,agar fokus orang-oramg tidak pada nilainya,tapi pada nilai orang lain. Seolah-olah mencari target sebelum dia menjadi sasaran. Faktor terakhir adalah latar belakang keluarga dari pelaku dan ekonomi yang rendah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh pakar, Irvan Usman, Kepribadin Komunikasi dan Kelompok Teman Sebaya, Iklim sekolah dan perilaku Bullying, (2013), kepribadian kualitatif seseorang juga dipengaruhi oleh apa yang mereka dapatkan di rumah. Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga besar yang sering menggunakan kata-kata kasar hampir dipastikan anak itu juga akan mengatakan kata-kata kasar di luar rumahnya. Karena tempat pertama anak-anak belajar bahasa adalah di rumah. Perkelahian dan perceraian orang tua juga menjadi salah satu alasannya. Anak-anak sepertinya mencari perhatian di lingkungan mereka karena di rumah, mereka tidak mendapatkan perhatian. Salah satu bentuk dari perhatian itulah perilaku pembullyan. Mereka berasumsi,permasalahan yang timbul dari kasus pembulian yang mereka lakukan akan menarik perhatian Orangtua kepada mereka.  Demikian juga faktor ekonomi, pelaku yang memiliki ekonomi rendah akan mencari orang lain untuk dijadikan sasaran bully sehingga fokus orang tidak pada ekonomi pelaku. Seperti mencari korban sebelum menjadi korban.


English version:

The recent bullying cases has become a hot issue discussed in Indonesia. Starting from the level of elementary school, middle school, college-level even in the workplace. Frequently, every bullying cases occurs, which is the main highlight is how bad the bullies are to dare to carry out bullying up. Or how sorry the victim is to experience something like that. All are always focused on the behavior and actions of the subject. Very rarely do people see bullying cases from point of view the subject. What factors are so that the subject can carry out such actions. According to the research, there are three reasons that make the perpetrator carry out bullying actions. Emotional factors of actors who are influenced by the environment have academic problems, and low family and economic backgrounds. The subject emotional factor is influenced by the environment. According to research conducted by Soedjatmiko and Wiguna in the article Gambaran Bullying dan Hubungannya dengan Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak Sekolah Dasar, pengaruh lingkungan memberikan andil besar dalam perkembangan emosi pelaku. The subject who is in a circle of friends who choose unstable emotions tend to gradually follow along. Because the brain is going to read them and what is seen by the eye, the more the eye sees it, the more slowly it will become a memorial. This is what happens when you are in a toxic friendship circle. The subject who have academic problems. Penelitian Glew G,Fan MY,Katon W,Rivara FP,Kernic MA. Bullying, psychosocial adjustment and academic performance in elementary school (2005)prove that a child who has an academic problem tends to look for someone else to bully as a way to close his shortcomings in academics. As if he was looking for a new target before he was targeted by bullies. The last factor is low family background and economic subject. Based on research conducted by an expert,Irvan Usman,Kepribadian Komunikasi dan Kelompok Teman Sebaya,Iklim sekolah dan Perilaku Bullying,(2013), the qualitative personality of a person is also influenced by what they get at home. A child who is raised in the big family who often used harsh words is almost certain the child will also say rude outside. Because the first place the children learns a language is at home. Parents' fights and divorce also become one of the reason. The children seemed to be looking for attention in their environment because, at home, they did not get attention. Likewise, economic factor, the subject who has a low economy will look for other people to be defended so that the focus of people is not on the subject economy. Like looking for sacrifice before being victimized. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer