Pemilu Sindir Menyindir Indonesia




Bismi-llāhi ar-raḥmāni ar-raḥīmi.

Tahun 2018 sudah berganti ke tahun 2019. Tak lama lagi masyarakat Indonesia akan melakukan agenda besar. Pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) sudah di depan mata. Indonesia yang merupakan negara demokrasi sudah sangat terbiasa dalam menghadapi pemilu. Namun, untuk pemilu tahun 2019,khususnya pemilihan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dapat dikatakan pemilu terumit sepanjang sejarah pemilu di Indonesia. Hoax bertebaran di mana-mana. Menyindir dan menjatuhkan lawan sudah biasa terdengar di mana-mana.

Persaingan saling menyindir dan menjatuhkan menunjukkan bahwa kedewasaan berpolitik masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Malu rasanya jika mengingat negara ini sudah melaksanakan pesta demokrasi sejak tahun 1955 namun masih kekanakan dalam berpolitik. Tak jarang persaingan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia dilakukan dengan membuka kelemahan kompetitor,bahkan menebar fitnah sana-sini yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Masih hangat dibicarakan ketika merebaknya kabar salah satu calon yang masih menjabat sebagai Presiden Indonesia,Joko Widodo, merupakan anggota dan berafiliasi Partai Komunis Indonesia (PKI). Padahal sudah jelas bahwa PKI dibubarkan pada tahun 1965 oleh presiden yang menjabat pada saat itu. Berpolitik memang begitu jahatnya.

Hal yang menarik dari dunia politik Indonesia selanjutnya adalah membangun panorama keislaman dalam aktivitas kampanye. Merepresentasikan diri dari dalil keagamaan tidak ada salahnya. Namun,jika merepresentasikan diri sebagai calon pemimpin yang saleh dan islami justru malah akan menimbulkan kontradiksi yang nantinya akan menjatuhkan kubu sendiri. Bahkan memasukkan nilai keagamaan untuk menjatuhkan kompetitor lawan,sampai dengan menggunakan majelis keagamaan untuk melakukan ujaran kebencian. Aksi 212 bukan lagi menjadi aksi damai dalam menyatukan Indonesia dalam keberagaman,namun telah menjadi sarana dalam berkampanye.

Beberapa waktu lalu beredar video ketidakfasihan Presiden Joko Widodo ketika mengucapkan Alfatihah menjadi Alfateka. Hal ini tentu menjadi angin surga bagi pihak lawan untuk menjatuhkan. Viralnya video ini guna untuk menurunkan kredibilitas dan kualitasnya,sehingga akan muncul kasak kusuk presiden yang tidak islami,memalukan agama islam,dan lain-lain.

Padahal jika dipahami dengan logika,hal ini murni masalah dialek. Orang-orang suku sunda yang memiliki kesulitan dalan melafalkan huruf  F (ef) menjadi P (pe) dan huruf  Z (zet) menjadi J (je),bahkan ketika membaca al-Quran. Ketika membaca ayat pertama surah An-Nasr “Idza jaa -a nashru allahi waalfathu” orang suku sunda biasa membaca nya menjadi “ijaa jaa-a nashru allahi waalfathu”. Alfatihah akan dilafalkan menjadi Alpateha. Melihat fenomena ini harus di sadari bahwa pelafalan Bahasa Arab dari non Arab seperti orang Indonesia dengan beragam suku dan budaya patut dimaklumi. Ini murni masalah dialek,jadi jikalau substansinya kita semua paham,ya seharusnya tidak perlu ribet. Jangan sampai hal sepele menjadi masalah berkepanjangan sampai menjatuhkan dan mempertanyakan keislaman seseorang. Apalagi sampai meng-kafirkan. Naudzubillah.

“barang siapa dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian,maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh” (HR Bukhari-Muslim).

Fenomena yang membawa nilai-nilai keagamaan untuk menjatuhkan seseorang akan memperlihatkan keburukan pada kelompok tersebut,dan agama yang akan mendapat dampak negatif. Disini saya sebagai penulis ingin menyampaikan kegerahan hati saya selama ini  terhadap cara-cara suatu kubu untuk menarik pendukung.
Dibandingkan dengan mencari-cari kesalahan lawan dan menebar hoax untuk mencari pendukung dan simpati masyarakat,hendaknya CUKUP dengan menunjukkan visi dan misi untuk membangun Indonesia. Sampaikan kepada masyarakat program-program terbaik dan show yourself
Jadikanlah pesta demokrasi tahun ini menjadi pemilu yang cerdas. Jadikanlah agenda terbesar ini menjadi tontonan bagi pihak luar akan keberagaman dan tranparansi negara Indonesia. Jadilah pemilih yang cerdas,jangan sampai mudah terprovokasi dan mudah berprasangka buruk  terhadap seseorang. Dalam hal ini juga jangan mudah termakan isu-isu terutama di media sosial. Jangan sampai hal-hal yang tidak di filter langsung dipercaya dan disebar. Ketika mendapat suatu informasi,tabayun lah terlebih dahulu.

 “hai orang-orang yang beriman,jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita,maka periksalah dengan teliti,agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan mu itu” (Al Hujurat : 6)

Komentar

  1. Kalau menurut kamu sendiri apa pendapat kamu jika ini masih berlaku hingga pemilu telah berakhir,bahkan terjadi perpecahan diantara suku??

    BalasHapus
  2. Hai farni .Tentu sangat disayangkan sekali. Pesta demokrasi yang seharusnya menjadi jendela akan keberagaman Indonesia terhadap dunia justru malah menimbulkan perpecahan suku. Para politikus yang sekarang menjadi lawan bisa jadi pemilu yang akan datang malah menjadi kawan. 10 tahun lalu,megawati berdampingan dengan prabowo merebut kursi presiden melawan sby dan jusuf kalla. Pemilu sekarang,prabowo melawan jokowi yang mana jokowi satu partai dengan megawati. Dan demokrat yang di ketuai sby termasuk partai yang mengusung prabowo. Jadi,jangan sampai karena perbedaan pilihan capres justru memecah belah kita. Sedangkan mereka dengan mudahnya berganti-ganti lawan dan kawan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer